Lewati ke konten
Badminton

Chou Tien Chen Juara China Open 2026, Usia Bukan Penghalang

Chou Tien Chen Juara China Open 2026

Chou Tien Chen kembali menunjukkan mengapa dirinya masih layak diperhitungkan di tengah persaingan tunggal putra dunia. Pada usia 36 tahun, pemain asal Taiwan tersebut berhasil menjuarai China Open 2026 setelah mengalahkan wakil Prancis, Toma Junior Popov, dalam pertandingan final tiga gim.

Bermain di Changzhou, China, Minggu, 26 Juli 2026, Chou memenangkan pertandingan dengan skor 21-15, 7-21, dan 21-13. Hasil ini tidak hanya memberinya gelar pertama pada musim 2026, tetapi juga menempatkan namanya dalam sejarah sebagai pemain tertua yang pernah menjuarai turnamen BWF World Tour Super 1000.

Kemenangan tersebut terasa semakin istimewa karena Chou harus melewati sejumlah lawan berat sepanjang turnamen. Ia membuktikan bahwa pengalaman, ketenangan, dan kemampuan mengatur permainan masih mampu menghadapi kecepatan pemain dari generasi yang lebih muda.

Final Berjalan dalam Tiga Gim

Pertandingan final mempertemukan dua pemain dengan karakter berbeda. Chou mengandalkan pengalaman, pertahanan, dan perubahan tempo, sedangkan Popov mencoba menekan melalui permainan agresif dan pukulan bertenaga.

Chou Tien Chen tidak langsung mendapatkan awal yang mudah. Ia sempat tertinggal enam poin pada gim pertama sebelum perlahan menemukan ritme permainan. Pemain peringkat enam dunia tersebut mulai memperpanjang reli, memperbaiki akurasi penempatan kok, dan memaksa Popov melakukan lebih banyak pergerakan.

Perubahan strategi itu membuahkan hasil. Chou mampu membalikkan keadaan dan merebut gim pertama dengan skor 21-15.

Situasi berubah drastis pada gim kedua. Popov meningkatkan kecepatan dan bermain jauh lebih menyerang. Chou Tien Chen kesulitan mengendalikan reli, sementara beberapa pengembaliannya tidak menghasilkan kualitas yang sama seperti pada gim pembuka. Popov pun mendominasi dan memenangi gim kedua dengan skor telak 21-7.

Kekalahan tersebut dapat membuat pemain kehilangan kepercayaan diri, terutama dalam pertandingan final. Namun, Chou memilih melupakan gim kedua dan kembali memulai pertandingan dengan pendekatan berbeda.

Pada gim penentuan, ia tampil lebih tenang dan tidak membiarkan Popov mengambil inisiatif terlalu lama. Chou unggul 11-4 ketika interval dan terus menjaga jarak setelah pergantian sisi lapangan.

Popov sempat mencoba memperkecil ketertinggalan, tetapi Chou tetap disiplin dalam mengatur arah pukulan. Pertandingan akhirnya ditutup dengan skor 21-13 untuk memastikan gelar China Open 2026 jatuh ke tangannya. Taipei Times

Perjalanan Berat Menuju Gelar Juara

Gelar ini tidak diperoleh Chou Tien Chen melalui perjalanan mudah. Pada babak-babak awal, ia lebih dahulu melewati Brian Yang dari Kanada dan Kodai Naraoka dari Jepang.

Tantangan terberat datang pada perempat final ketika Chou berhadapan dengan pemain nomor satu dunia sekaligus andalan tuan rumah, Shi Yu Qi. Sebelum pertemuan tersebut, Chou sudah menelan sembilan kekalahan beruntun dari Shi.

Rekor pertemuan yang kurang menguntungkan tidak membuatnya menyerah. Chou bermain berani dan berhasil menghentikan rentetan kekalahan itu melalui pertandingan tiga gim dengan skor 21-14, 12-21, dan 21-15.

Kemenangan atas Shi menjadi salah satu titik terpenting dalam perjalanannya. Selain menyingkirkan unggulan utama di hadapan pendukung tuan rumah, hasil tersebut memperlihatkan bahwa Chou masih mempunyai kemampuan untuk mengalahkan pemain terbaik dunia.

Pada semifinal, Chou Tien Chen menghadapi rekan senegaranya, Lin Chun Yi. Pertandingan ini juga tidak mudah karena Lin datang dengan status juara All England 2026. Chou sekali lagi memperlihatkan kematangannya dalam mengelola poin-poin penting dan menang dua gim langsung 21-18, 21-17. Focus Taiwan

Menjadi Pemain Tertua yang Juara Super 1000

China Open termasuk dalam kategori Super 1000, level tertinggi dalam rangkaian reguler BWF World Tour. Hanya beberapa turnamen yang berada dalam kategori ini sehingga persaingannya hampir selalu diikuti para pemain papan atas dunia.

Pada usia 36 tahun, Chou Tien Chen resmi menjadi pemain tertua yang berhasil memenangi gelar Super 1000. Rekor tersebut memberikan arti besar karena tunggal putra modern sangat bergantung pada kecepatan, daya tahan, kekuatan kaki, dan kemampuan pulih setelah pertandingan panjang.

Chou Tien Chen bahkan masih mampu memperlihatkan serangan bertenaga pada final. Salah satu smesnya ketika meraih poin ke-18 pada gim penentuan tercatat mencapai kecepatan 484 km per jam.

China Open juga menjadi gelar Super 1000 kedua sepanjang kariernya. Gelar pertamanya pada level yang sama diperoleh ketika ia menjuarai Indonesia Open 2019.

Ia menjadi pemain kedua yang mewakili Taiwan dan berhasil menjuarai tunggal putra China Open setelah Fung Permadi. Bagi Chou Tien Chen, keberhasilan ini sekaligus memperpanjang catatan selalu meraih setidaknya satu gelar dalam lima musim berturut-turut.

Kebangkitan Setelah Tersingkir di Japan Open

Hasil di China terasa semakin mengejutkan jika melihat pencapaian Chou Tien Chen pada turnamen sebelumnya. Satu pekan sebelum China Open, ia harus tersingkir pada babak pertama Japan Open.

Alih-alih larut dalam kekecewaan, Chou bersama timnya mengevaluasi permainan dan memperbaiki sejumlah kekurangan dalam waktu singkat. Perubahan itu langsung terlihat di Changzhou. Ia tampil lebih sabar, berani menghadapi reli panjang, dan mampu mengubah strategi ketika pertandingan tidak berjalan sesuai rencana.

Mentalitas untuk bangkit menjadi salah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *