Rencana FIFA membuka sebagian bisnis komersial Piala Dunia kepada investor swasta memicu perdebatan besar dalam sepak bola internasional. UEFA menilai langkah tersebut sudah melewati batas karena berpotensi memberikan pengaruh tidak langsung kepada pemilik modal terhadap kompetisi terbesar di dunia.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham juga menyampaikan penolakan. Menurutnya, Piala Dunia bukan sekadar produk bisnis yang dapat diperdagangkan kepada investor. Sepak bola tumbuh karena pemain, klub, komunitas, dan suporter, sehingga keputusan besar mengenai masa depannya tidak semestinya hanya didasarkan pada nilai komersial.
Di sisi lain, FIFA menegaskan bahwa rencana tersebut tidak berarti menjual kepemilikan atau kendali olahraga atas Piala Dunia. Investasi hanya akan masuk ke perusahaan baru yang menangani kegiatan komersial dan operasional kompetisi FIFA.
Perbedaan pandangan tersebut memunculkan pertanyaan penting: apakah investasi swasta dapat mempercepat perkembangan sepak bola dunia, atau justru membuat Piala Dunia semakin dikendalikan kepentingan bisnis?
Apa yang Sebenarnya Direncanakan FIFA?
Rencana FIFA membentuk perusahaan bernama FIFA Forward Enterprise atau FFE. Perusahaan ini akan menyatukan berbagai aktivitas komersial FIFA, termasuk penjualan hak siar, sponsorship, tiket, lisensi, serta sebagian pekerjaan operasional turnamen.
FFE diperkirakan mempunyai valuasi sekitar US$20 miliar. FIFA berharap dapat mengumpulkan dana hingga US$4,2 miliar dengan menawarkan saham minoritas yang tidak memberikan kendali kepada investor luar.
Dengan struktur tersebut, FIFA tetap menjadi pemegang saham mayoritas. Investor tidak akan memperoleh wewenang resmi untuk mengubah regulasi pertandingan, menentukan kalender internasional, memilih tuan rumah, atau membuat keputusan olahraga lainnya.
Namun, kritikus mempertanyakan apakah batas antara keputusan bisnis dan olahraga benar-benar dapat dipisahkan. Investor yang mengeluarkan miliaran dolar tentu mengharapkan keuntungan. Kebutuhan menghasilkan pemasukan lebih besar dikhawatirkan dapat memengaruhi ukuran turnamen, jumlah pertandingan, harga tiket, pemilihan pasar, dan cara hak siar dijual.
Rencana itu pertama kali diketahui melalui laporan media Inggris sebelum FIFA mengeluarkan penjelasan resmi. Cara informasi tersebut muncul turut menimbulkan ketidakpuasan karena sejumlah asosiasi sepak bola dan pemangku kepentingan merasa tidak dilibatkan sejak awal. South China Morning Post
Mengapa FIFA Membutuhkan Investor?
Presiden FIFA Gianni Infantino mengatakan bahwa Rencana FIFA dan popularitas sepak bola harus dimanfaatkan untuk membantu perkembangan olahraga di seluruh dunia. Menurut FIFA, perusahaan khusus akan membuat pengelolaan bisnis menjadi lebih terarah sekaligus meningkatkan nilai komersial kompetisi.
Dana hasil investasi direncanakan untuk memperbesar bantuan kepada 211 asosiasi anggota FIFA. Melalui program FIFA Forward, anggaran untuk setiap asosiasi pada periode 2027–2030 dapat meningkat dari sekitar US$8 juta menjadi US$20 juta.
Asosiasi anggota juga berpeluang memperoleh tambahan dana satu kali hingga US$20 juta untuk proyek besar melalui program FIFA Fast Forward. Dana tersebut dapat digunakan untuk pembangunan lapangan, pusat latihan, pengembangan pemain muda, kompetisi perempuan, pendidikan pelatih, dan infrastruktur sepak bola.
FIFA memperkirakan struktur baru itu dapat menghasilkan lebih dari US$10 miliar untuk program pengembangan dalam empat tahun. Dari sudut pandang FIFA, investasi swasta bukan sekadar upaya mencari keuntungan, tetapi cara memperluas distribusi pendapatan kepada negara yang memiliki kemampuan komersial lebih kecil.
FIFA sendiri memperoleh sebagian besar pemasukan dari Piala Dunia putra. Hak siar, sponsor, penjualan tiket, layanan hospitality, dan lisensi menjadi sumber pendapatan utama. Untuk siklus 2022–2026, pendapatan FIFA diperkirakan mencapai US$15 miliar. Sky Sports
UEFA Menilai FIFA Telah Melewati Batas
UEFA memberikan respons keras terhadap rencana tersebut. Badan pengelola sepak bola Eropa itu menilai jiwa dan tata kelola sepak bola bukan aset yang dapat diperdagangkan.
Kekhawatiran UEFA tidak hanya berkaitan dengan saham yang akan dijual, tetapi juga transparansi mengenai pihak yang akan memperoleh keuntungan. UEFA meminta asosiasi nasional, liga, klub, pemain, suporter, dan pemerintah memberikan perhatian serius terhadap proposal tersebut.
Menurut UEFA, FIFA bertindak sebagai pengelola sepak bola dunia, bukan pemilik tunggal Piala Dunia. Karena itu, FIFA dianggap tidak dapat memperlakukan kompetisi tersebut seperti perusahaan pribadi yang sebagian sahamnya dapat dialihkan kepada investor.
Negara-negara anggota UEFA dilaporkan bersiap mengadakan pertemuan darurat. Bahkan muncul pembahasan mengenai kemungkinan menggunakan ancaman boikot jika FIFA tetap melanjutkan proposal tanpa konsultasi dan perubahan yang memadai.
Belum ada keputusan resmi mengenai boikot. Ancaman tersebut masih menjadi bagian dari tekanan politik dalam hubungan FIFA dan UEFA yang memang beberapa kali mengalami ketegangan.
Perbedaan keduanya tidak hanya menyangkut prinsip. Eropa memiliki klub, liga, dan pasar siaran dengan nilai sangat besar, sedangkan FIFA membawa mandat untuk mendistribusikan pendapatan ke seluruh dunia. Rencana FFE kemudian membuka babak baru dalam persaingan mengenai siapa yang mengendalikan kekayaan sepak bola global. Reuters
Pemerintah Inggris Ikut Menolak
Perdana Menteri Andy Burnham menegaskan bahwa sepak bola bukan milik investor. Menurutnya, olahraga tersebut menjadi besar karena masyarakat yang datang ke stadion dan mendukung klub setiap pekan dalam berbagai kondisi.
Burnham menilai Piala Dunia tidak dapat diperlakukan hanya sebagai produk komersial. Walaupun kesepakatannya dibungkus dengan janji investasi dan pemerataan dana, menjual sebagian bisnisnya tetap dianggap membuka jalan menuju kepentingan korporasi yang lebih besar.
Reaksi Inggris mempunyai arti tersendiri karena negara tersebut mempunyai hubungan kuat dengan sejarah sepak bola serta sedang terlibat dalam rencana penyelenggaraan turnamen internasional mendatang.
Pemerintah, federasi, dan kelompok suporter juga memiliki perhatian besar terhadap kenaikan harga tiket serta akses masyarakat ke pertandingan. Masuknya investor swasta dikhawatirkan membuat harga dan keputusan komersial semakin berorientasi pada keuntungan.
Siapa Calon Investor FFE?
Thrive Capital disebut berpeluang memimpin kelompok investor. Perusahaan tersebut didirikan oleh Joshua Kushner, saudara dari Jared Kushner yang merupakan menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
JP Morgan bertindak sebagai penasihat keuangan dalam penyusunan proyek. Keterlibatan perusahaan tersebut ikut mendapat perhatian karena JP Morgan sebelumnya berkaitan dengan pembiayaan proyek European Super League yang akhirnya gagal setelah menghadapi penolakan besar dari suporter dan otoritas sepak bola.
Hubungan antara calon investor, lembaga keuangan, dan tokoh politik membuat tuntutan transparansi semakin kuat. Publik ingin mengetahui siapa saja yang akan membeli saham, hak apa yang diperoleh, berapa lama perjanjiannya berlaku, dan bagaimana keuntungan akan dibagikan.
Laporan media juga menyebut kemungkinan Infantino memimpin perusahaan tersebut setelah masa jabatannya di FIFA berakhir. FIFA membantah bahwa rencana semacam itu pernah dibahas.
FIFA menjelaskan bahwa presiden dan jajaran administrasi memang perlu memiliki peran penting dalam perusahaan baru. Namun, peran tersebut disebut diperlukan untuk memastikan FFE tetap berjalan sesuai statuta FIFA dan kepentingan seluruh asosiasi anggota.
Risiko Komersialisasi Piala Dunia
Walaupun investor hanya memperoleh saham minoritas, keberadaan modal swasta tetap dapat menciptakan tekanan baru. Investor tentunya ingin nilai perusahaan meningkat dan menghasilkan keuntungan jangka panjang.
Pertumbuhan tersebut dapat didorong melalui penambahan pertandingan, perluasan peserta, kenaikan nilai sponsorship, harga tiket lebih tinggi, serta kontrak penyiaran yang semakin eksklusif.
Kekhawatiran lainnya adalah kemungkinan pertimbangan komersial memengaruhi pemilihan lokasi pertandingan atau format kompetisi. FIFA menegaskan investor tidak akan mempunyai kendali olahraga, tetapi keputusan komersial dan teknis sering kali saling berkaitan.
Sebagai contoh, perubahan jumlah peserta otomatis memengaruhi jumlah pertandingan dan pemasukan siaran. Pemilihan negara tuan rumah juga berhubungan dengan ukuran pasar, sponsor, infrastruktur, dan kemampuan menjual tiket.
Karena itu, UEFA menginginkan jaminan yang lebih kuat daripada sekadar pernyataan bahwa FIFA tetap memegang kendali.
Proposal Belum Mendapat Persetujuan
Rencana FIFA Forward Enterprise belum menjadi keputusan final. Proposal tersebut masih harus dibahas bersama asosiasi anggota dan FIFA Council.
Jika prosesnya berlanjut, persetujuan mayoritas anggota FIFA kemungkinan akan dibutuhkan. Setiap asosiasi perlu menilai manfaat pendanaan yang ditawarkan serta risiko jangka panjang terhadap independensi sepak bola.
Bagi negara yang membutuhkan pembangunan infrastruktur, tambahan dana hingga puluhan juta dolar tentu sangat menarik. Namun, keputusan tersebut juga membawa konsekuensi yang dapat berlangsung jauh lebih lama daripada satu periode kepengurusan.
Perdebatan mengenai FFE pada akhirnya bukan hanya tentang angka US$4,2 miliar. Persoalan utamanya adalah siapa yang berhak menentukan arah Piala Dunia dan seberapa jauh sepak bola dapat membuka pintu bagi investor swasta.
FIFA melihat investasi sebagai cara membagikan kekayaan sepak bola secara lebih merata. UEFA dan para penentangnya melihat proposal itu sebagai langkah menuju komersialisasi yang sulit dikendalikan.
Keputusan akhirnya akan menentukan apakah Piala Dunia tetap sepenuhnya dikelola sebagai kompetisi milik komunitas sepak bola atau memasuki era baru ketika sebagian bisnisnya juga menjadi aset investasi global.